Jumat, 20 Maret 2015

Panggilan Darurat

Aku membelinya bukan untuk pajangan di kamar, atau penebal kantong dan dompet ketika berjalan keluar. Dipencet-pencet sepanjang ada yang dicari, namun diabaikan ketika dirasa tidak memberi arti. Suaranya kadang ditunggu dan disukai, tapi pernah juga dicampakkan serta dibenci. Maknanya sangat berarti, hingga diperlakukannya ia seperti kekasih hati. Tetapi saat emosi tidak terkontrol, terbawanya ia sebagai pelampiasan akibat lupa diri.

Benda ini tidak mungkin dimusnahkan, ia sangat dibutuhkan. Tentu saja. Apalagi di zaman serba canggih seperti sekarang, aku selalu mengandalkannya sebagai penghubung antar teman dan kerabat. Mungkin perlakuanku tidak selalu baik, tapi ia selalu setia memberi kabar dan informasi dari jarak jauh sekalipun.

Ponsel, begitu ia dikenal. Pernah aku merasai terganggu dengan getar serta lampu di layarnya, hingga bersikap tidak acuh terhadapnya. Barangkali sebab berbagai kesibukan yang sedang kugeluti saat itu, atau karena kepenatan pikiran menggelayuti seakan tidak mau terusik. Jadi kuputuskan tidak menggubris suara gaduhnya, sempat juga mematikan koneksinya.

Tapi suatu kali, kudapati ponselku tidak bergeming dari tempatnya, bahkan layarnya gelap seakan mati. Kutimang-timang dan sayangi ia, kuharapkan kerinduan terobati. Namun, gelisah semakin menjadi karena tidak pernah ada jawabnya. Di situ rasa sesal menghampiri, mengingat salah yang barangkali menyakiti.

Lalu, kupencet saja panggilan mengawali, kepada seorang yang ingin kuajak berbagi. Panggilan itu tidak beberapa lama, hanya sekedar bunyi, "tululut...tululut", tidak sampai dijawab oleh si pemilik nomor. Harapannya agar ia balik menghubungi dan menanyakan sesuatu tentang diriku. Aku tunggu satu menit, dua menit, hingga lima menit, tidak juga ada balasan telepon darinya. Kuhubungi sekali lagi, panggilan yang amat sangat singkat, karena pulsa sedang menipis jadi sebisa mungkin tidak tersedot biaya pulsa.

Tidak berapa lama, akhirnya ponselku berdering juga,
"Hallo, ada apa misscall melulu?" tanya suara dari sebrang.
"Aku mau curhat nih, udah lama nggak calling-calling. Kamu lagi nggak sibuk kan?"
 "Waduh, jadi nelpon cuma buat dengerin curhatan. Kirain ada keadaan darurat apa. Udah besokan aja," Sergah suara itu.
"Tapi ini juga nggak kalah daruratnya ko,"  paksaku
"Kamu lagi ngigau ya. Ini jam berapa coba ? Aku mau lanjut tidur lagi nih," Suara itu melemah. 

"Aku nggak bisa tidur. Ini baru jam nol... satu... tiga... lima... Curhatku penting nih, banyaaak banget yang lagi aku pikirin. Tentang persahabatan kita, tentang kerjaan aku, tentang deadline yang menumpuk, tentang cowok yang...." Cerocosku terhenti.
"ZZzzz.... Zzzzz..."
"Hallo... Din.. Dina...,"

Dengan sedikit kecewa aku sudahi pembicaraan itu... ;(


"Diikutsertakan dalam #TantanganMenulis | Tema : Prozvonit."


2 komentar: