Senin, 22 September 2014

Saat Ucapan Menjadi Abang-Abang Lambe

setyonurkuncoro.deviantart.com

Aku masih terpekur di layar monitor, menyimak kembali makna Sadar Hati yang merupakan singkatan dari Bahasa Daerah Harus Diminati. Sejenak kulebarkan bibir demi merekahnya senyum, perasaan menderu haru, mengenang kembali masa sekolah dulu. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia kita diperkenalkan beragam peribahasa yang bersumber dari bahasa daerah. Peribahasa atau pepatah itu sebagai ungkapan, yang biasa ditujukan dalam penggambaran suatu perilaku/sifat atau keadaan seseorang.

Bagi sebagian orang, tentunya pepatah merupakan kalimat efektif digunakan untuk mewakili atas penggambaran yang sedang terjadi. Dan pepatah mengajarkan kita untuk tidak berbicara langsung dengan kasar, menghindari kata-kata menghina dan bahasa alay.

Kuingat pepatah yang sering disebutkan ibuku yaitu abang-abang lambe. Biasanya beliau mengatakannya manakala ada seseorang mengiming-imingi sesuatu kepada orang lain, tetapi tidak dibuktikan secara nyata. Mungkin ingin memberikan kesan sebagai orang baik hati atau sebuah bentuk kepedulian, entahlah.  

Di pihak lain, tentunya dapat mengecewakan bagi orang yang mengharapkan sesuatu tersebut. Itu terjadi pada kerabatku, Udin dan Oman, seorang kakak beradik yang tinggal berjauhan. Di mana Udin sudah mempunyai  keluarga dan bisnis yang cukup lancar, hendak memulai bisnis barunya dekat dengan rumah sang adik. Kemudian dimintanya Oman untuk membantu usahanya tersebut dengan syarat bersedia keluar dari pekerjaan sebelumnya, sehingga bisa maksimal mengelola serta memberi honor secara penuh pada sang adik.

Permintaan kakak terhadap sang adik pun dipenuhi, pekerjaan dapat ditangani dengan baik. Namun tidak berselang lama, hanya bertahan beberapa bulan proyekpun dihentikan. Alasan modal yang dibutuhkan ternyata diluar perkiraan dan perijinan usaha yang tak kunjung selesai, harus mengakhiri usaha yang selama ini dilakoni.

Tentu saja kerugian terbesar harus ditanggung sang adik, karena demi membantu usaha kakak telah rela melepas pekerjaan sebelumnya. Sementara kakaknya masih memiliki usaha utama yang bisa menopang kehidupan selanjutnya. Janji Udin untuk menanggung resiko yang terjadi, sekedar untuk menutupi hutang selama menjalankan proyeknya. Sedangkan adiknya yang terlanjur menganggur tidak bisa ia ikut menanggungnya, walau di awal bersedia membantu sampai memperoleh pekerjaan baru.  

Perkataan hanya manis di bibir cukup untuk menarik perhatian orang lain, tapi kenyataan yang terlihat berbeda. Udin tidak bisa membuktikan perkataannya untuk menanggung biaya hidup sang adik, bahkan seolah tidak mau tahu kabar adiknya lagi.

Abang-abang lambe merujuk kepada bibir yang merah merona. Dalam Bahasa Indonesia, abang berarti merah dan lambe berarti bibir. Sebagaimana wanita yang mengenakan pewarna merah untuk menghias bibirnya agar tampak lebih menawan dan menarik perhatian. Begitu pun dengan abang-abang lambe, untuk menyenangkan hati orang lain dan menggugah perasaan, maka dikatakanlah sesuatu yang positif.

Ucapan adalah sebuah perkataan yang diracik melalui bahasa. Pentingnya penggunaan bahasa yang baik dan santun dalam ucapan merupakan hal yang sangat berpengaruh, dengan daya tarik untuk meyakinkan dan membuat orang lain terkesan.

Ketika pemilihan kepala/ pemimpin baik di negeri atau pun swasta, dalam kampanye pasti menggunakan bahasa dan kata-kata "manis", bijak dan aktif, karena memang ampuh dalam menarik massa dan meyakinkannya.

Penyampaian pepatah abang-abang lambe pernah disinggung oleh Gus Ipul atau Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur, pada saat menggelar acara silaturahmi di Kantor Muhamadiyah (baca selengkapnya disini). Seperti diketahui, setiap menjelang pemilihan kepala daerah mau pun pusat, pasti akan mencari dukungan (bantuan) pihak lain yang mempunyai pengaruh di wilayahnya. Tidak jarang, sindiran kepada pihak lawan digunakan untuk menguatkan posisi. Dan sindiran yang dilontarkan Gus Ipul merupakan cerminan yang dapat dilihat dan dinilai oleh orang lain.

Manisnya ucapan kadang tidak sehaluan dengan perilaku, mungkin saat mengatakannya tidak sungguh-sungguh dari dasar hati. Namun kekecewaan yang ditinggalkan akan sampai ke hati, yang diingat sampai kemudian hari. Sungguh, itu bukan hanya merugikan pihak yang dijanjikan lantaran kecewa tapi juga dapat berkurangnya kadar kepercayaan. Menyenangkan hati orang lain tidak semata-mata dengan perkataan, melainkan perbuatan yang nyatalah lebih berarti.

Meski hanya gurauan, bila tidak mendasar pada kebenaran maka tetap saja salah. Rasulullah pun untuk membuat sahabatnya senang, beliau hanya melakukan gurauan yang sebenarnya (benar adanya) tetapi tidak menyakiti orang lain. Dalam hadits disebutkan bahwa "Ada orang yang mengucapkan kata-kata agar teman-temannya tertawa, namun kata-kata itu menjerumuskannya (ke neraka)..." (HR. Ahmad)
Aku mengerti mengapa harus berpikir terlebih dahulu sebelum mengatakan sesuatu, apakah kita benar-benar bisa memegang kata-kata itu atau hanya untuk menyenangkan hati saja dan tidak ada arti apa-apa. Karena ucapan adalah bentuk dari statement yang dapat mengikat kita kepadanya, sebaiknyalah mengatakannya dengan benar.




http://tenteraverbisa.files.wordpress.com/2014/08/banner.jpg


4 komentar:

  1. Abang-abang lambe itu nyenengno ning ora kebukten alias sekedar menyenangkan tapi tidak dibuktikan hehe..

    yuniarinukti.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe.. iya. seperti itulah...

      terima kasih udah mampir ;)

      Hapus
  2. Mungkin lebih baik diam atau menolak dengan halus daripada abang-abang lambe

    BalasHapus
  3. diam itu emas, dari pada ngomong yg tidak-tidak

    BalasHapus