Catatan Seorang Sahabat

Sahabat adalah nama lain keluarga. Yang dengannya kita berbagi suka dan duka, ketika keluarga sendiri pun tak mampu 'tuk mengungkapnya. Sahabatlah yang memaklumi segala kurang dan khilaf, rela menunggu konsekuensi yang ditimbulkan, menghibur saat dilanda kegelisahan, selalu tahu tindakan yang harus dilakukan, dan banyak hal luar biasa lainnya yang sanggup dilakukan seorang sahabat sejati.

Kukira setiap orang bisa dijadikan sahabat selagi kita memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya perlakuan. Dan tidak ada alasan untuk membeda-bedakan dalam cara kita berbicara dan bersikap terhadap seseorang. Kita sama-sama ciptaan Tuhan dengan (pasti) adanya kekurangan dan kelebihan yang beragam, dilahirkan atas dasar fitrah manusia (suci), dengan akal serta ilmu.

Lingkungan-lah menjadi alasan, pergaulan yang menumbuh kembangkan hingga bentuklah terlihat dalam wujud jati diri. Kemajuan zaman memasuki dimensinya, dengan mobilisasi keadaan, heterogensinya kalangan dan berlapis-lapisnya wajah dunia. Menghilangnya keseragaman yang mengikat dalam kesatuan 'senasib sepenanggungan', tercemar oleh bumi yang terkikis panas.

Dan sahabat pun kini berwajah baru, dengan pilarnya yang menghijau syahdu namun ruangnya beku dan berduri. Tak kuasa ku langkahkan kaki lebih jauh menapaki, 'tuk selami hati yang kusangka rimbun. Perlahan pikirku bergerak haluan, karena mereka (orang-orang) itu ternyata sebatas teman biasa yang sempat menorehkan sebaris nama dalam sejarah keberadaan.

Seiring pergeseran waktu dan keadaan, sahabat muncul tanpa disadari. Sahabat itu ada sejak kita saling memahami, mengerti kebutuhan dan menerima keadaan. Ya, sahabatku kini sejatinya telah ku kenal sebelum ini. Setiap keadaanku telah dipahami dengan baik olehnya, hingga hampir semua kebutuhan telah dipersiapkannya untukku. Padahal kali pertama mengenal, tidak terjadi keakraban yang serupa, mungkin karena terbatas intensitasnya pengenalan diri.

Dia salah seorang sahabat sejatiku, yang rela sabar menanggapi. Eneng sapaan akrabnya, penopang hidup keluarga tercinta. Banyak kisahnya kusaksikan, yang menjadi satu alasanku tetap mempertahankan persahabatan ini. Andaikan mampu kuwujudkan setiap ingin dan angannya, ingin kujejakkan sejarah tentangnya, atas ketangguhan dan kerja kerasnya, dan kehebatan yang terbukti dalam setiap keputusannya. 

Persahabatan bagaikan dua mata uang, kedua sisi tentu berbeda permukaan namun selalu dalam satu bentuk yang tak bisa dipisahkan. Setiap orang pasti berbeda karakter dan pemikiran, hanya saling pengertianlah yang mampu mendekatkan. Dan tentunya keakraban yang telah tercipta harus tetap dipupuk dan dipertahankan, karena sampai kapan pun kita akan membutuhkan hubungan yang seperti itu.  

Memperlakukan sahabat sebagaimana keluarga sendiri, akan meniadakan jarak atas perbedaan yang terjadi. Adanya kemakluman atas sikap dan ucapnya yang menyinggung, menjadi hal yang patut dimaafkan dan semakin terjalinnya toleransi serta pengenalan watak masing-masing. Dan sahabat yang baik tentunya mendorong kita untuk lebih dekat dengan agama, karena dasar sabar menjadi bekal menghadapi situasi, Sabar pun tak berbatas tempat dan dimensi.

Semoga persahabatan yang terjalin akan semakin mempererat tali silaturahim, memberikan siraman kekuatan, menumbuhkan kedewasaan serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Allah SWT.
Aamiin...

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama