Doa Restu di Hari Bahagiamu



Masih kutatapi gambar putih yang terpampang di postingan media sosial milikmu, sukacita menyelimuti, rasa haru bercampur bahagia mengaliri. Bisa kubayangkan betapa mengembangnya hati dan bibirmu menikmati, hari-hari menuju pelaminan. Undangan itu putih polos dengan background batik, terukir barisan kata di atasnya, perijinan untuk hari bahagiamu bersama sang pilihan hati.

Sempat kecewa karna undangan itu tak pernah sampai kudengar, bahkan secara tertulis tak satu pun kuterima melaluimu. Baru kutahu dari seorang sahabat seminggu sebelumnya, sontak kaget pun sesal menggelayuti.

"Tanggal 15 Mei ini akan berlangsung munakahatnya kawan kita." 
Sesaat kuterdiam tidak merespon, sedikit menahan napas kuberpikir keras. "Kenapa begitu tiba-tiba?" kataku lirih.
"Waktunya memang tak disangka, namun segala persiapan telah dilakukan. Kita juga memaklumi keadaanmu," jawabnya iba.

Padahal, teramat sangat inginku hadir menyaksikan langsung, bertatapan dengan wajah ayumu, saling melempar senyum kebahagiaan, mengiringi langkah mantap menyongsong sang suami idaman, dan membisikkan beribu doa keberkahan untuk masa depan keluargamu.

Tapi kita sama-sama tahu, harapku hanya dalam khayal semata karna nyata kakiku dalam belenggu sakit. Barangkali itu menjadi satu alasan sebab sudah setahun lalu, kau tak mengabari hingga harus kumaklumi dan ku pun terpaksa menyampaikan doa serta rasa syukur hanya lewat penyambung komunikasi kita, handphone.

"Iya, maaf. Semuanya serba kilat, jadi tak sempat mengabari langsung," katamu menerangkan.

Aku mafhum adanya.

Kau telah kuanggap bagian keluarga, bagiku. Kita lama berada dalam satu atap bersama seorang sahabat lainnya, kita adalah musafir yang berkelana di padatnya ibukota. Dengan asal daerah yang berbeda, tak lantas menjadikan kita dalam pesaingan. Dalam satu atap, kita berbagi (makan pun tempat tidur), bertukar cerita (pengalaman yang dipunya), saling memahami (watak keras yang lain), menasehati (dukungan yang menyemangati), dan melengkapi (kebisaan yang dipunya). Kita bertiga, walau ada kala ketidakakuran membubuhi, tapi setiap hal yang kita isi bersama membuatku menyadari, kita adalah keluarga. Berkali khilaf, ketidaksempurnaan, lalai, dan ketidaksukaan, merupakan suatu kewajaran yang selalu termaafkan.

Dan di hari bahagiamu ini, tepatnya Jum'at, yang katanya hari penuh keberkahan, di Jawa Kasepuhan sana kau sedang menunaikan ikatan janji suci, mengenakan gaun terindah dengan anggunnya menyambut sesosok lelaki yang halal bagimu. Sementara, di belahan Selat Sunda aku hanya bisa meniupkan rasa sukacita bersama lantunan doa yang diterbangkan angin ke tempat peraduanmu.


Kawan, apa pun yang menjadi piihanmu semoga diberkahi Allah SWT
bersama itu pula restuku mengiringi
setiap bahagiamu akan kuamini

Di mana pun tempatmu berada, insya Allah kelak kan kukunjungi
Atau, kan kupintakan pada-Nya agar mempertemukan kita kembali
meski jarak dan waktu membentangkan sayapnya
tak kan kulupa kenangan kita memadu cerita.

Selamat menempuh hidup baru
teruntuk Ani Harjanti (MbAni), Mbakyuku
Doaku sama sebagaimana orang umumnya menyampaikan 
Semoga menjadi keluarga Sakinah, Mawadah, Warahmah
Dengan bersatunya dua insan yang saling melengkapi
Semoga dapat juga saling menyempurnakan agama dan akidah
menerima seutuhnya pribadi masing-masing
dan menjadi pasangan tak terpisahkan hingga akhir
serta dikaruniai dengan keturunan soleh solehah.
Aamiin.


4 Komentar

  1. Allah Selalu Menjawab Dan Mengabulkan Doa HambaNya,jika nanti bertemu peluk erat aja mbak.
    keren artikelnya.
    salam kenal :)

    BalasHapus
  2. Iya, smg bsa ktemu lg..
    makasih, salam kenal balik...

    BalasHapus
  3. Baca postingannya bikin feel puitisku jadi tergelitik kerena kebetulan udah lama juga aku ga nulis kata-kata yg puitis....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, gk nyangka bsa spt itu. Ayo mas, nulisnya jgn klamaan ditunda takut kata2nya kabur.. hihihi

      Hapus
Lebih baru Lebih lama