#TantanganMenulis : Are You My Destiny ?

Setiap orang mempunyai nalar tentang perasaannya sendiri, sebuah firasat tentang sesuatu di masa depan. Hanya saja butuh kepekaan untuk memahaminya, yang terkadang diabaikan begitu saja.


http://www.mediapijar.com/

Bayanganku tepat berada di depan, menghalangi silau matahari yang memantul. Kepalaku semakin terasa panas. Terlebih setelah mengikuti kuliah Filsafat, yang sangat menguras pemahaman dengan berbagai teori-teori ketuhanannya itu. Aku dan Fira memutuskan menikmati es kelapa muda di kantin belakang kampus.

Sesampainya di ujung pintu kantin, Fira menghentikan langkahnya seraya berujar, "La, kamu saja yang beli ke kantin, aku nitip es buah ya?"
"Lho, kenapa ? Ko nitip, kan kamu yang ngajak kesini ?"
"Iya, tapi... Aku nggak mau ke sana. Please, kamu sendiri nggak apa-apa 'kan?," pinta Fira dengan nada memelas.

Sebenarnya aku sempat bingung dengan gelagat Fira, yang tersenyum tersipu ke arah lain. Namun setelah diperhatikan beberapa saat, baru aku menyadari keberadaan seseorang di tenda es buah itu.
"Baiklah," putusku. "Barangkali dia adalah cowok yang disukai Fira, yang selama ini diceritakan. Sekalian saja aku melihat orangnya," batinku.

Dengan antusias aku bergegas menuju tenda es buahnya Mang Ori, yang terkenal dengan kesegarannya.
"Mang, minta es buah dan es kelapanya dibungkus ya?," pesanku.
"Nggak diminum di sini aja Neng?," tawar Mang Ori seraya bercanda.
"Yang satunya titipan Mang, jadi dibungkus aja," alasanku.
"Buat Fira ya ?," celetuk cowok yang sedari tadi menemani Mang Ori.
"Iya. Kamu temannya?"
Sontak cowok itu bangkit dari bangkunya untuk kemudian mendekat dan mengulurkan tangan, "Saya Fazrul, satu alumni dengan Fira," katanya sambil tersenyum.
"O, aku... eh saya... Mala," balasku sedikit salting.
*Ada yang menyelinap masuk ke dalam hatiku, perasaan yang membuat bibirku ingin menyunggingkan senyuman. Sosok Fazrul terlihat santun dan berkarakter, aura terpancar dari air mukanya yang bersih*

Tidak berapa lama, Mang Ori menyodorkan bungkusan es pesananku. Dan cowok itu (Fazrul) langsung menawari traktiran. Tapi aku menolaknya dan pamit pergi setelah membayar dengan uang pas, hanya sebersit senyum yang kuberikan sewaktu Mang Ori menggoda karena aku tidak menerima gratisan.

Aku menceritakan kejadian itu pada Fira, dan dia mendukung keputusanku yang tidak menerima traktiran dari Fazrul.
"Kamu malu ya...?," godaku sama Fira.
"Aku merasa gugup setiap kali ketemu sama Fazrul."
"Takut perasaanmu ketahuan?," balasku.
"Bukan itu, tapi... Sudahlah. Ayo pulang," putus Fira kemudian, tanpa menyelesaikan kalimatnya

Setelah pertemuan pertama dengan Fazrul di kantin, beberapa kali kami berpapasan tanpa sengaja. Di lorong fakultas, di perpustakaan, di parkiran hingga masjid depan kampus. Tetapi tidak pernah terjadi perbincangan panjang lebar diantara kami. Hanya belakangan baru kusadari, ternyata kami satu fakultas tapi di lantai berbeda.

***

Di semester ini, ada mahasiswa dari jurusan lain bergabung di kelasku. Dan betapa terkejutnya aku setelah mengetahui dia adalah Fazrul, bersama seorang temannya mengambil tambahan SKS. Lalu kami pun mulai terbiasa mengobrol, sharing info beasiswa, bahkan terlibat dalam kelompok diskusi yang sama. Dari intensitas pertemuan yang teratur itulah menjadikan kami semakin akrab.


Fira yang berbeda fakultas merasa iri, setelah aku ceritakan bahwa Fazrul mengambil mata kuliah Aplikasi IT di kelas yang sama denganku. Tidak ada maksud untuk membuatnya cemburu, tapi Fira berhak tahu juga kalau teman kostannya ini satu kelas dengan teman sekolahnya dulu.

Sebenarnya aku tahu perasaan Fira terhadap Fazrul, tapi entah mengapa aku juga merasa senang saat bersama Fazrul. Walau kadang Fazrul sering membuatku aneh ketika dia tersenyum dan tertawa tiba-tiba, selagi memperhatianku.

"Mala... Saya mau jujur sama perasaan saya sama kamu," ungkap Fazrul suatu hari.
"Ma..ksudnya...?," tanyaku sedikit khawatir.
"Saya... kamu...," belum sempat Fazrul selesaikan kalimatnya, hpku berdering.
"Assalamu'alaikum," sapaku pada penelepon.
"Ha, Astagfirullah... Iya, aku kesana," Jawabku menanggapi suara di ujung telepon.
Usai pembicaraan ditelepon, aku merasa panik, sedih dan cemas. Aku pun mengungkapkan semuanya, "Fazrul... Fira dan aku sudah seperti saudara, dia punya perasaan khusus sama kamu. Sekarang, Fira sedang berada di klinik, dia pingsan karena maghnya kambuh."

Hanya tatapan yang tersisa diantara kami, membiarkan hati saling bicara :
"Jika rasa kita sama, cukuplah Tuhan yang 'kan menyatukan
Aku sudah merasa bahagia dengan segenap cinta yang kau curahkan."


"Diikutsertakan dalam #TantanganMenulis "Koi no Yokan" oleh @Kopilovie dan @miss_zp."

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama