Surat Permintaan



Kuungkap jutaan rasa dan makna melalui kata
tentang doa dan keinginan yang 'tak jua jadi nyata.

Berkali tentukan pilihan yang tidak kau setujui.
Berat, memendam tumpukan keraguan
antara bakti dan jati diri
bergulat dalam otak dan naluri.

Aku dibesarkan dengan aturan untuk patuhi
mengikuti alur yang dianggap terbaik dijalani
agar tidak terjebak dan sengsara di kemudian hari
sesuai tradisi yang biasa 'tuk dituruti.

Kiranya semua baik adanya, melalui sebuah kesopanan
sebagaimana perintah-Nya-lah demikian
tapi, entah mengapa hatiku sesak bergerak
seolah diri terjerembab dalam ruang bertembok.

Ayah, mungkin aku bukan anak berbakti
sebab memilih merantau di negeri penuh duri
tapi aku juga tidak hendak menjadi anak durhaka
karena pergiku hanya ingin menggapai cita.

Ketahuilah ayah,
walau komunikasi kita berjarak
segala cinta dan sayangku tidak menafikan
namun pilihan dari sudut pandanglah menjadi perbedaan
barangkali akibat zaman telah mengalami perubahan
dan semua pun harus ada kemajuan signifikan.

Telah kulihat ragam dunia, dengan banyak warna berbeda
kurekam setiap pijak yang ada melalui pandangan 'tak sama
banyak cerita dan wacana yang kupelajari
hingga ingin ku lebih mendalami.

Kini, hanya restumulah yang kuharap mempercayai
mendukung langkah majuku lebih mandiri
biarkanku menjajaki kehidupan ini dengan berani
menanggung segala resiko yang mungkin terjadi.



"Diikutsertakan dalam #TantanganMenulis | Tema : Sesuatu untuk lelaki/perempuan dalam hidupmu."

2 Komentar

Lebih baru Lebih lama