Sahabat dalam Kenangan


 Perpisahan telah menjarak antara kamu dan aku. Tinggal jejak membekas dalam memory berbayang, yang setia temani langkahku kala mengenang. Satu-dua kali masaku terjebak antara lamunan dulu dan kemudian, betah berlama menikmati kesukariaan. Di tengah hamparan indah bunga di taman, warna-warninya menghipnotis bawah sadarku menggandengmu berlarian tanpa halang dan beban.

Sekejap senyum rekah hilang bersamamu, sebelum waktu semakin jauh meninggalkan tempat ini. Raga kutemukan dalam sendiri, di antara jalanan terjal dan berliku, diserang musim yang menggigilkan hawaku dan gunungan beban menimpaku. Aku terbelalak. Tarikan nafasku sesak, ngilu di kaki dan sakit di pundak, masih mengiringi pijakku.

Kawan, hidup ini sulit ternyata, indah hanya ketika bersama, bahagia sewaktu berbagi, dan beban pun lenyap dalam sepenanggungan. Sepi. Tanpamu tiada bisaku bercurah rasa, membuang siksa, pun dengarkan petuah membangkitkan. Hampa. Ruang kosong di sudut hati mendendangkan gema suara, memanggil-manggil sebuah nama, air mata tertahan nafas, dan tatap mata pun kabur bersama kerinduan.

Butuh waktu bagiku menata kata, mengubah aksara menjadi makna. Dengan hati kutenangkan rasa, benamkan raga dalam semedi mengabdi. Semua baik-baik saja. Kabut hitam menghilang dalam doa dan beban pun terangkat bersama sujud. Semakin kuresapi segala himpitan masalah dan temukan jawab hanya tertuju pada-Nya, Tuhan Semesta Alam.

Hidup tidak pernah mengikuti langkah kakiku, justru langkahkulah yang terus mengikuti perjalanan hidup. Bila kamu temukan aku dalam siraman cahaya, maka saat itu imanku masih lengkap terjaga. Akan tetapi, ragaku tidak selalu sempurna menjaga hati yang terkadang goyah di guncang peradaban. Mungkin, saat itu akan kamu lihat sisi gelap bersemayam dalam diriku. Jika demikian, sudikah kamu tetap berteman denganku?

Aku kira, semua orang bisa dijadikan teman. Setiap insan mempunyai sisi kemanusiawian yang heterogen sesuai pola pikirnya menjalani. Aku bukan hakim yang berhak mengadili, tidak pula pantas memberi batas beda. Jika sakit menjadi pilihan hatiku untuk menjalani, cukuplah Tuhan yang akan mengobati. Hanya dalam kekhusuan ibadahlah angkara murka dalam diri redam bersama kucuran air suci.

Kawan, hatiku perlahan ditempa firman dan hadits yang diturunkan hingga raga menerima hadirmu setiap waktu. Meski ruang dan jarak kita terbentang luas, tidak pernah kamu kuanggap mantan sahabat. Setiap menit kenangan kita mengisi hari, selalu menghiasi lembar kehidupanku. Susahku dulu menjadi usahamu menghibur dan kala bahagia kita rasai rata bersama.

Apabila suatu hari kamu merasai sepi dan sendiri, janganlah bersedih tanpa arah. Aku di sini selalu mendoakan bahagia dan kebaikan selalu menyertai langkah beradamu. Tetaplah tabah dan istiqomah, dengan berserah diri pada Ilahi, sebagaimana tujuan kita diutus ke bumi.


3 Komentar

  1. ya benar bnget,nggak ada yg namanya mantan sahabat, selalu doakan kawan atau sahabat.

    BalasHapus
  2. Sip, jadi inget temen2 lama yang dulunya tidur bersama,sekarang terpisah entah kemana.

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama