Surat Pengakuan Untuk Sahabat

Kawan, lama aku jauh dari target awal, berkecimpug di jalur berpenghambat tak berarti, merutini tugas yang diaku sebagai profesi mulia dan mengamankan diri dari tantangan situasi. Keadaan 'tlah membenamkan diri pada emosi yang mengasah keseimbangan posisi, mengorbankan kelayakan atas harga semestinya. Beberapa kesempatan harusnya membawa pada lebih dekat pencapaian. Berbagai alasan kubuat dan menjadikannya rumit, padahal mestinya bisa berupa motivasi. Mencari hiburan lain sebagai jalanku melampiaskan amarah pun kecewa, nyatanya membawa pada kesesatan, sekedar pemuas nafsu yang sulit dihentikan. Semakin terus ditelusuri, teramat sulit lepas alih-alih hilang dari peredaran jejak kelam.

Mulanya hendak mencari sesuatu yang hits, mengikuti perkembangan, hingga terbawa arus gelombang, lalu terjerat serat kemunafikan dan lupa kembali ke arah yang benar. Tanpa disadari, tumbuhnya rasa penasaran dapat menyebabkan jebakan menyesatkan, bahayanya akan melumpuhkan sebagian besar daya cipta dan karya. Merasakan kehilangan jati diri, langkahku menjauh dari pijakan kewarasan, pikiran terlanjur terlenakan imajinasi kelabu.

Meski bermunculan harapan dan keinginan untuk memperbaiki, merubah, atau menghilangkan buruknya, namun tiada mewujud tuntas menanggalkan jerat semula. Kesadaran didapat semasa dalam ketidaknyamanan, ingin segera keluar mengakhiri, berpindah mengejar kembali yang sempat tertinggal, kemudian tidak lagi berurusan dengan hal tak berfaedah. Namun, kondisiku mengalami labil ketika dihadapkan pada pilihan tak terduga, antara yakin atau menyerah, faktanya menjadi keputusan sendiri.

Sesungguhnya bukan waktu yang kubutuhkan dalam pengobatan, hanya kepastian untuk meyakinkan diri akan kenyataan di hadapan. Entah sekarang atau nanti, pastilah harus dihadapi dengan keberanian. Jika tidak tinggalkan seluruh gumpalan menyesatkan, takut kelak tiada bisa dipertanggungjawabkan. Fardhunya kusucikan diri berlipat kali, dengan basuhan air diberkahi serta siraman ayat-ayat suci.

Tahukah kau, berat rasanya mesti mengawali kembali dan merajut sedari mula. Impian yang sempat kujauhi sebab terhalang rentetan kejadian disertai terbatasnya alasan tak mendasar, hingga harus kutarik seluruh daya agar mendekat dan bisa kuikat. Terlebih, amatlah sulit menghancurkan jaring kesesatan yang terlanjur sebagai pengobat sakit dalam dada. Mungkin saja, semuanya berproses dengan kegigihan. Yang pasti, harus kutinggalkan segera.   

Sebenarnya sempat terlintas bimbang ketika pilihan mendapatkan tempat di persimpangan jalan. Hampa. Takut. Khawatir. Mengepung dari segala arah tak terduga, seolah meminta penggantian atas zona yang kutinggalkan. Peganganku hanya pada kuasa Ilahi, di mana kupasrah serahkan apa pun mungkin dihadapi. Entah mudah atau sulit, menjadi tanggunganku hingga akhir.

Harusku bersyukur atas hadirmu saat sulit, tak pernah meninggalkan bahkan mengkhianati kepercayaan. Sebaliknya, kaulah selalu lebih menggebu terhadap mimpi yang kita ukir bersama. Apabila keluhku sama tiap saatnya, harap maklumi dan tetap yakini. Ada hari di mana bahagia dan indah 'kan kudekap nyata, kaulah yang menjadi pendukung utama.



 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama